Pengajian Kali Musi-3 di Cafe MUMED Palembang (24 Feb 2019)
Oleh Lukman Hakim

“Nasib adalah kesunyian masing-masing,” kata Chairil Anwar. Maka tak ada patokan yang pas untuk menakar seberapa berat, atau justru ringan, seseorang menjalani hidup.

Orang barangkali hanya menemukan pemantik api, tapi bisa jadi hal itu buatnya merupakan kebahagiaan yang tak terkira. Kita jadi ingat sebuah kisah ajib ihwal korek api dan betapa seseorang menggantungkan hidup kepadanya.

Syahdan, tiga sahabat memiliki kegemaran yang berbeda. Yang satu gemar main perempuan, yang lain suka menenggak minuman keras, dan yang satu lagi hobi merokok.

Pada suatu malam yang antaberantah, mereka disambangi sesosok jin yang berjanji mengabulkan permintaan. Orang pertama meminta, “Beri aku seribu perempuan cantik dari seluruh penjuru dunia, lalu masuk dan kunci aku di sebuah gua selama sepuluh tahun.” Orang kedua meminta, “Aku mau seribu jenis minuman keras dari seluruh penjuru dunia dan biarkan aku sendirian di dalam gua selama sepuluh tahun.” Orang ketiga meminta, “Kumpulkan seluruh rokok pelbagai merek dari seluruh penjuru dunia, lantas jangan ganggu aku selama sepuluh tahun di dalam gua.”

Sepuluh tahun berlalu, gua pun dibuka. Orang yang berkencan dengan seribu perempuan keluar dengan muka ngilu. Laik cara berjalan suster ngesot, dengkulnya terlalu keropos untuk dapat berjalan seperti biasa. Orang yang bergumul dengan cairan haram tak kurang mengenaskan; perutnya kembung, matanya merah mendelik, dan ia keluar gua dengan sempoyongan sembari kepalanya terus menerus terantuk dinding.

Orang ketiga agak berbeda; kondisinya segar bugar seperti sedia kala. Hal pertama yang ia cari setelah keluar dari gua adalah jin. Setelah ketemu, jin tersebut dipukulinya habis-habisan. “Dasar jin celaka,” teriaknya disela-sela ayunan bogem, “Sepuluh tahun kau membiarkanku bersama rokok-rokok itu, tapi selama itu pula kau tak memberiku korek. Asem!!!”

Seperti halnya terdapat kebahagiaan dalam sesuatu yang oleh sebagian orang dianggap remeh temeh, kehilangan sesuatu yang sama juga tak kurang membuat sedih.

Seorang gadis yang berharap mendapat pujian setelah bersolek berjam-jam di depan kaca, tetiba marah-marah karena apa yang menurutnya sudah tepat dan baik itu justru dicibir oleh teman sebangkunya. Kehilangan muka itu memang ujian yang menyakitkan, Nduk! Tapi tentu saja, bapakmu pun akan ketawa-tawa mendengar curhatanmu. “Salah bedak membuat duniamu seperti ambruk, sementara kami yang membelikannya saja tak pernah merasa ada masalah,” katanya.

Kebahagiaan, seperti juga kesedihan, punya takarannya masing-masing bagi setiap pengalaman yang berbeda. Maka tak perlu membikin-bikin perbandingan. Tak usah mengukur seberapa jauh kesedihan Nobita ditinggal Doraemon, misalnya, dan kemudian membandingkannya dengan kegalauan Ustadz Imron Supriyadi saat kehilangan motor perjuangan. Itu sungguh tak terlalu, tak perlu, tak penting.

Kebahagiaan adalah kebahagiaan. Kesedihan adalah kesedihan. Itu saja.

Kita akan tetapi lebih suka kalau hidup ini dipenuhi dengan yang asyik-asyik saja. Dan sadar kalau itu mustahil, kita pun mengembangkan mekanisme sedemikian rupa sehingga yang pedih-pedih sebisa mungkin menjauh. Kita jadi alergi terhadap segala yang berbau kehilangan; kehilangan rama-biyung (baca: bapak-ibu), kehilangan sepatu, kehilangan kekasih, kehilangan sikat gigi, kehilangan keturunan, kehilangan mobil, kehilangan hak warisan, kehilangan buku-buku, kehilangan harga diri, kehilangan kancing baju, kehilangan nama baik, kehilangan cinta kasih. Dus, kehilangan egoisme; segala apa yang menurut kita adalah hak milik kita.

Kita melupakan musabab dari kehilangan. Apa? Perasaan pernah memiliki, seperti hal ini pernah disinggung dalam lagu grup band Letto yang berjudul “Memiliki Kehilangan”.

Kenapa Anda marah saat orang lain menista diri Anda bodoh, misalnya!? Sebab Anda merasa pernah memiliki kepintaran. Kenapa Anda bersedih saat ditinggal kawin pacar, umpamanya!? Sebab Anda merasa pernah menjadi kekasihnya.

Itulah barangkali alasan orang-orang tua dulu menasehati cucu-cucunya dengan “Nak, jangan pernah merasa bisa, tapi bisalah merasa”. Di tempat lain seorang bijak memberikan wejangan, “Sering-seringlah memangkas kuku.” Maksudnya, memotong klaim keakuan atau egoisme atawa —dalam redaksi tasawuf— ananiyah; menampik sikap batin yang terus membisiki kita untuk berkata bahwa “aku pintar, aku kuat, uang itu milikku, markonah adalah kekasihku,” dan lain sebagainya.

Nyatanya, kita memang tak punya apa-apa, kan!? Kita ini siapa di hadapan Tuhan!? Kita ini bisa apa di depan kehendak dan kekuasaan-Nya!?

Konon Ibn ‘Arabi pernah bersyair:

لكل شيء اذا فارقته عوض # وليس لله ان فارقت من عوض

“Segala sesuatu, ketika engkau berpisah darinya, pasti terdapat ganti. (Akan tetapi) Allah, saat kita berpisah dari-Nya, akankah ada pengganti?”

Menumbuhkan kesadaran bahwa kita tak pernah berhak atas sesuatu, yang kita tahu dapat memberi manfaat praktis mengatasi kesulitan-kesulitan yang timbul dari momentum kehilangan, nyatanya bukan sesuatu yang mudah. Itu melibatkan pertarungan yang terus menerus terhadap diri sendiri, selain kita seringkali luput; kita menyiapkan kesadaran untuk kehilangan satu hal, tapi ternyata Tuhan mengambil yang lain, yang tak terpikirkan dan yang kita merasa aman-aman saja sebelumnya.

Apakah betul seperti kata Thomas Alpha Edison, “Nasib berpihak pada pikiran yang siap siaga”? Atau seperti kalimat Ranggawarsita, “Sak beja-bejane wong kang lali isih beja wong kang eling lan waspada (seberuntung-beruntungnya orang yang lupa, akan lebih beruntung orang yang selalu ingat dan senantiasa waspada)”?

Pendek kata, dengan demikian kita memerlukan kesiagaan yang paripurna untuk mengantisipasi rasa kehilangan; menampik kesedihan. Dan tentu, sekali lagi, itu tak mudah. Atau ini berarti ini sebuah isyarat agar kita tak perlu berlaku sedetail dan seruwet itu?

Bahwa, kondisi-kondisi tak mengenakkan yang kerap menghajar sisi-sisi psikologis kita itu sebetulnya tak perlu ditanggapi dengan terlalu khawatir. Apa yang ditengarai oleh Ibn ‘Athaillah As-Sakandary sebagai momentum faaqah tersebut sebetulnya tak lain tak bukan adalah seruan cinta dari Tuhan. Hanya kita sering tak menyadarinya.

Dalam kondisi faaqah (stress yang tinggi, rasa kesepian yang mendalam, rasa kehilangan yang akut, butuh teman tapi tak ada kawan, dan sebagainya), kita sesungguhnya sedang diajak berdialog oleh Tuhan, “Hai hambaku, ayo kemari, lekas kesini, pintu kasih-Ku selalu terbuka untukmu.” Faaqah adalah rasa butuh yang amat mendesak. Bagi Ibn Athaillah, ini sebetulnya adalah momen terbaik; waktu ketika seorang hamba menyadari status substansial dari kehambaannya (setelah selama ini merasa menjadi “tuhan” bagi dirinya sendiri).

Itulah sebabnya momen faaqah ini justru disebut sebagai pesta raya para penempuh jalan menuju Tuhan.

ورود الفاقات أعياد المريدين

Manusia itu siapa sebetulnya? Tidak kurang adalah budak belian (atau ini kadang diperhalus dengan istilah hamba sahaya). Siapa itu budak? Orang yang tak punya hak apapun; seluruh hidupnya ditentukan oleh sang Sayid (majikan).

Tetapi justru ketika seorang manusia telah mampu menempatkan sikap batinnya dengan tepat, dengan merasa diri tak lebih sebagai budak belian dari Allah, ia pada dasarnya telah mencapai kedudukan yang tinggi di sisi-Nya; bahkan mungkin yang tertinggi. Kita ingat, saat ditawari oleh Allah untuk memilih gelar kehormatan buat dirinya sendiri, Nabi Muhammad memilih untuk menjadi sekedar ‘abdun (budak atau hamba).

Momen Faaqah, apapun musababnya (termasuk barangkali akibat rasa kehilangan yang mendalam), sesungguhnya adalah karunia yang belum tentu kita temukan dalam shalat, dalam puasa, atau dalam bentuk peribadatan lahiriyah yang lain. Sebab dalam shalat kita sering terjebak pamer, dalam puasa kita terjerat besar kepala, dan dalam ibadah lahiriyah lainnya kita terdorong untuk bangga diri. Semua itu adalah sikap batin yang bertentangan dengan esensi hamba.

Ibn ‘Athaillah berkata:

ربما وجدت من المزيد في الفاقات ما لا تجده في الصلاة والصوم

“Terkadang anda meraih anugerah yang bertambah ketika dalam rasa butuh yang mendesak, yang tidak anda jumpai ketika anda puasa dan sholat.”

Begitulah. Tak perlu ada yang disesali dari kehilangan. Alih-alih membuat kita larut dalam rasa sedih, kehilangan sepatutnya kita rayakan. Sebab dengan sikap fakir kepada Tuhan tak kita buat-buat itulah kita sesungguhnya sedang berkasihan dengan Tuhan.

Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY