Topik pada Pengajian Kali Musi (PKM) #2 Palembang, Ahad (13/01/2019) mengusung tema “Ruang Hampa”. Awalnya, diantara jemaah PKM ada yang mengartikan hampa sebagai bentuk kegalauan, kosong, resah, gundah, perasaan tanpa arah dan tujuan.

Ada juga yang memaknakan, ruang hampa adalah rasa yang mengundang rindu terhadap sesuatu. Ada lagi yang menyebut, hampa sebagai bentuk ketiadaan rasa untuk melakukan sesuatu, tidak adanya keinginan.

Ada yang mengemukakan, hampa terjadi ketika satu keinginan tidak tercapai maka akan terasa hampa. “Setelah sarjana akan hampa, karena belum mendapat kerja,” celetuk salah satu mahasiswa semester akhir yang ditingkahi gelak tawa jemaah PKM lainnya.

Kali itu, semua jemaah PKM bebas memaknakan ruang hampa sesuai dengan dimensi pemikirannya masing-masing. “Silakan berkommentar tentang ruang hampa yang dirasakan atau yang dialami kawan-kawan. Disini bebas. Di pengajian ini tidak ada monopoli kebenaran,” ujar Ahmad Supardi, jurnalis tempo.co yang kali itu sebagai moderator.

Malam itu, muncul ragam makna tentang ruang hampa. Secara umum, hampa, kosong malam itu — meski ini bukan kesimpualn mutlak– hampa (kosong) berarti tidak berisi materi di dalamnya. Luar angkasa disebut ruang hampa, karena tidak ada udara, tidak ada apa-apa. Tetapi kosong tidak selalu kosong. Sebab kosong bisa berisi.

Sebab ketika kosong dilambangkan angka nol, maka ia akan mengubah kosong menjadi berisi. Ketika nol berada di hadapan angka satu, (10) maka angka nol (0) akan “mengisi” (menambah nominal) angka 1 menjadi 10. Bila nol-nya ditambah 2, akan menjadi 100 dan seterusnya sampai tak terbatas.

Pengajian Kali Musi (PKM) kali kedua mengusung tema “Ruang Hampa” Ahad, 13 Januari 2019 (Foto. Dok.PKM)

Setiap kita, dalam keseharian juga sering menemui ruang kosong. Sebab tanpa sadar, kita juga bagian ruang kosong itu. Kita akan selalu berkepentingan pada ruang kosong dalam menjalani proses hidup.

Kita hanya akan mengisi air minum ke dalam gelas atau cangkir, saat sudah ada ruang kosong. Kita hanya akan mengisi beras untuk dimasak, setelah sebelumnya kita menuangkan semua sisa nasi kemarin dan mencuci bersih hingga panci menjadi kosong.

Seorang tukang parkir, hanya akan mengarahkan para pengguna lahan parkir di lokasi yang kosong. Sepak bola hanya akan berlangsung bila lapangan sudah kosong. Saat kita menyewa rumah, harus lebih dulu dikosongkan, baru kemudian kita bisa menempatinya.

Daun jatuh dari dahan dan meninggalkan gagangnya, juga untuk memberi ruang kosong, bagi tumbuhnya daun baru, yang memiliki hak tumbuh untuk menggantikannya. Pengisian dan pergantian pejabat, anggota dewan, bupati, gubernur dan presiden hanya akan dilakukan setelah kursinya kosong.

Pun demikian halnya, kita tidak mungkin akan memaksa makanan masuk ke mulut saat di mulut kita masih penuh makanan. Meski kita akan memasukkan suapan nasi per satu sendok, tetapi kita akan menunggu setelah mulut kita kosong.

Demi terjaganya menjaga stabilitas hidup, setiap mahluk juga wajib mengosongkan bagian tertentu, agar sirkulasi makanan, antara vitamin dan racun bisa terpisah untuk kemudian besok pagi akan keluar menjadi tinja, dan sebagian menjadi gizi bagi tubuh.

Rasululllah SAW, melalui haditsnya mengajari adab makan kepada setiap kita agar “mengosongkan” sebagian perut menjadi 3 bagian. Sepertiga air, sepertiga makanan dan sepertiga lagi angin. Hak mendapat ruang bagi angin adalah ruang kosong. Sebab, meminjam istilah penyair di Palembang, Warman P — angin akan selalu mengisi ruang kosong dalam setiap bentuk, termasuk dalam perut kita.

“Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafas.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

Rutinitas Buang Air besar (BAB) di WC tidak akan mungkin kita lakukan berdua secara bersamaan dengan membuat kesepakatan, beradu pantat dan jongkok diatas lobang yang sama untuk membuang tinja, sekalipun suami-isteri.

Kalau di rumah kita hanya satu WC, akan ada dua alternatif kemungkinan. Pertama; kita sabar menunggu, dengan risiko memegang perut dan lobang dubur di depan WC sembari meringis, kedua; kita akan ke tetangga atau syukur-syukur ada sungai terdekat, dan akan berlari terbungkuk-bungkuk ke sungai untuk membuang tinja.

Rutinitas BAB adalah kewajiban kita demi “mengosongkan” ruang tertentu dalam tubuh kita, agar terjadi “regenerasi” makanan, gizi dan racun sehingga badan tetap bugar dan sehat. Usai BAB, kita berkewajiban menyiram tinja, agar lobang WC kembali bersih dan kosong, sehingga tidak akan menimbulkan fitnah bagi pengguna berikutnya.

Perintah puasa, juga bagian dari proses upaya pengosongan, baik fisik dan non fisik. Puasa wajib atau sunnah, adalah “perintah pengosongan” yang bukan sekadar menahan haus dan lapar, melainkan ada pesan nilai vertikal dan horizontal.

Secara vertikal, pesan “pengosongan perut” pada puasa sebagai ujian pengabdian ke-tauhidan bagi setiap hamba yang beriman, bukan untuk semua hamba. Sebab ayat perintah puasa (Ramadhan), khusus diserukan dengan kalimat : “Yaa, ayyuhal-ladzii-na-Aamanuu” (wahai orang-orang beriman), bukan bagi setiap muslim (Yaa..ayyuhal muslimun), bukan pada setiap manusia (Ya..ayyuhannaas), bukan pula pada hewan (Ya..ayuuhal hayawaan). Meskipun, satu kali ayam juga mendapat perintah puasa selama 21 hari saat mengeram, demi terjaganya kualitas telur yang akan melahirkan generasi baru.

Secara horizontal “pengosongan perut” dengan menahan haus dan lapar selama 1 bulan, untuk membentuk mental solidaritas sosial sesama hamba. Setiap kita wajb ikut merasakan lapar dan hausnya warga miskin yang selama ini menahan haus dan lapar, bukan hanya 1 bulan, tetapi sudah berdasa warsa. Target akhir dari “pengosongan” ini agar setiap hamba menjadi orang bertaqwa (la’alalkum-tat-taquun).

Taqwa berari : Tawadhu’, Qonaah dan Wara’. Satu sikap “pengosongan diri” dari segala nafsu perut dan bawah perut. Tawadhu’ sebuah sikap kerendah-hatian hamba untuk “mengosongkan diri” dari dosa batiniah dan lahiriyah, baik ke-angkuhan diri, iri dengki dan sejenisnya.

Qona’ah, sikap menerima segala taqdir lahiriyah dan batiniyah dari Sang Pencipta, kematian sekalipun. Qona’ah, perintah pengosongan diri dari segala tuduhan dan persangkaan buruk (su-udzan) seorang hamba kepada Tuhan-Nya, agar menjadi persangkaan baik (khuz-nudz-dzan) terhadap semua taqdir apapun, meski harus ditebus dengan keringat, darah dan air mata.

Wara, sikap seorang hamba yang selalu “mengosongkan” dirinya dari peluang dosa, sebagai upaya memelihara diri dari kemungkinan mengingkari nilai ketauhidan, di tengah modernitas dan pluralitas, baik lahir dan batin.

Upaya “pengosongan diri” bukan hanya manusia, tetapi seekor ulat sekalipun, melakukan hal serupa. Sebagai proses totalitas penghambaan diri, misalnya ulat pisang (enthung; dalam bahasa jawa) satu ketika akan “berpuasa” dengan membungkus diri dalam kepompong. Hanya akan tinggal kepalanya saja yang bergerak-gerak. “Begitulah, cara ulat berdzikir,” ujar Nabi Sulaiman, dalam satu kisah.

Disinilah ulat sedang mengosongkan diri; melakukan proses sublimasi batin, demi terjaganya diri dari segala kerakusan terhadap ragam bentuk daun yang selama masih ulat, segala daun menjadi makanannya.  Membungkus diri ala ulat juga sebagai upaya ulat menghindarkan diri dari kemungkinan lepasnya bulu yang membuat gatal setiap manusia atau hewan lainnya. Bersembunyi di balik daun adalah cara ulat untuk menghindari sikap kebencian mahluk lain terhadap dirinya.

Ketika kelak, ulat lepas dari kepompong, ia akan menjelma menjadi kupu-kupu indah. Siapapun akan senang melihatnya. Anak kecil pun, sesaat akan berhenti menangis, ketika melihat kupu-kupu terbang. Hinggap dimanapun, kupu-kupu tidak akan membuat ranting patah. Indah, menawan, membuat hati setiap orang suka, tenang, dama dan nyaman. Semua lahir usai melakukan “pengosongan diri” (kembali ke titik nol)–sebagai bentuk penyadaran kehambaan dan ke-khalifahan yang sebenarnya (hakiki).**

Imron Supriyadi

LEAVE A REPLY