Catatan Pengajian Kali Musi #2

Semalam menjelang tengah malam, teman Pengajian Kalimusi berkisah, diantara kesibukannya dari aktivitas sehari-hari, tiba-tiba dia disergap rasa yang tak tau apa?. Dia merasa kosong dengan apa yang dijalani itu.

Bila rasa itu tiba, dia mencoba melarikan diri dengan kegiatan yang menyita perhatiannya secara berlebih, naik gunung misalnya.

Saat pendakian itu, ketika melewati hutan, melewati ranting yang menyulur ke jalan setapak, atau berjalan di pinggiran jurang hingga akhirnya menyampaikan langkahnya ke puncak, dia merasa tenang sekali. Kelelahan dan pertarungan nyawa selama di perjalanan seolah berbuah manis ketika menghirup udara segar di puncak, sama segarnya ketika meminum air dari sumber mataair yang ada diantara bebatuan gunung.

Teman lain ada kisah lain, dia merasa kosong dengan dirinya sendiri. Siapa aku?. Hingga akhirnya dia melakukan perjalanan ke tempat-tempat baru diperkotaan di beberapa pulau besar Indonesia. Dia menemukan beragam orang, pendapat hingga prilaku. Dia mencoba meniru, tapi rasa kosong tidak juga pergi. Dalam perjalanan jauh, dia tak menemukan yang dicari.

Kekosongan itu sebenarnya ruang hampa. Tapi bukan berarti rasa sepi, karena sepi adalah isi dari kehampaan itu sendiri, sama halnya dengan marah, kecewa, rindu atau bahkan cinta. Hampa seperti gelas kosong, rasa lainnya itu adalah beragam cairan isi yang bisa dituangkan.

Rasa hampa muncul begitu saja, tanpa jadwal waktu dan lokasi alamat.

Mungkin benar apa yang dikatakan Panelis Kalimusi #2, Kurnia Abadi, katanya ruang hampa muncul seperti kerinduan kepada sesuatu yang jauh, jauh sekali. Atau kerinduan kepada sesuatu yang dekat sekali. Kepada sesuatu yang paling berat atau juga paling ringan.

Yang jauh adalah masalalu, namun yang paling dekat adalah kematian. Yang berat adalah janji, namun juga sesuatu yang paling ringan, yakni meninggalkannya. Kehampaan adalah sebuah paradoks jarak dari sebab di atas.

Namun menurut Pengasuh Pondok Tahfiz Rahmat Palembang, Imron Supriyadi, ruang hampa adalah ciri manusia itu sendiri, karena manusia bermula dari ketiadaan dan kembali ke tiada. Namun, ketika hidup sudah merasakan ketiadaan atau hampa, sebenarnya itu sebuah penemuan jalan yang harus disyukuri, sebab ketika tersadar itu, kita bisa mengisinya dengan pemahaman dan kesadaran atas kepemilikian ‘tiada’ itu sendiri. Sebab kehampaan adalah proses hidayah menemukan jawaban.

Demikianlah perjalanan ruang hampa yang selalu kita temui dan kita tak kehendaki, dia tak lain sebuah angka nominal yang kembali ke angka nol. Pada saat itulah perjalanan dan pertanyaan tak boleh dihentikan, selain mendaki gunung, melewati kota ke kota, desa ke desa, ada jalan lain bernama perjalanan spritual sunyi, bahwa sesungguhnya manusia adalah dari tiada kembali ke tiada. Bahwa “Innalillahi Wainnailaihirojiun”.

Ahmad Supardi

LEAVE A REPLY